216

216 Kriteria Film Bagus Menurut Ismail Basbeth, Sutradara "Another Trip to the Moon" dan "Mencari Hilal"

04 Apr 2016

 

Buat Pop Patriotics yang rajin mengikuti perkembangan film pendek Indonesia pasti udah nggak asing lagi dengan nama Ismail Basbeth. Beberapa karyanya yang familiar adalah Hide and Sleep (2008), Harry Van Yogya, Shelter (2011), Maling (2012), Ritual (2012) dan 400Words (2013). Karya-karya Ismail nggak hanya diputar di scope lokal aja tapi juga ajang festival internasional. Termasuk film panjang pertamanya, Another Trip to the Moon ikut kompetisi International Film Festival Rotterdam 2015.

“Saya selalu menganggap sepanjang proses pembuatan film pendek saya adalah sekolah S1 sedangkan proses pembuatan film panjang adalah sekolah S2,” kata Ismail Basbeth. Yup, sekarang ini Ismail semakin dikenal lewat film panjangnya. Untuk Talak 3 sendiri menembus 500.000 penonton! Banyak hal yang bisa kita pelajari dari sutradara yang sedang menggodok film dengan tema musikal dangdut yang rencananya bakal mulai syuting tahun depan ini. Apa aja tuh? Ini dia nih, Pop Patriotics…

1. Belajar Film Dari DVD

“Saya belajar film dari film-film di rental DVD yang saya jaga. Yang punya rental-nya teman saya, pembuat film dokumenter namanya Darwin Nugraha. “Bayarannya sih kecil, tapi kamu bisa belajar film di sini,” gitu katanya. Eh, tau-nya beneran, saya belajar banyak dari jagain rental DVD dan pas di 2006 ada festival film di Jogja dan semua komunitas film di Jogja bantuin festival itu, saya jadi makin “keseret” di dunia film sampai sekarang.”

2. Panjang dan Pendek Sama-sama Menyenangkan

“Saya orang film, bukan orang film pendek atau panjang. Dua-duanya sama-sama menyenangkan. Yang membedakan hanya pada prosesnya, durasi, industri dan tantangannya. Misalnya nih, kalau film panjang, kita punya waktu untuk menjelaskan hal-hal dan udah ada tempat untuk menontonnya di bioskop. Yah, walaupun sekarang dengan akses informasi dan teknologi yang luas semakin mudah buat kita untuk menonton film pendek, tinggal butuh atau nggak aja. Karena membuat film itu tergantung kebutuhan dan keinginan dari sutradara dan penonton.”

3. Rumusan Untuk Film Bagus

“Film Indonesia produksi orang Indonesia udah bagus-bagus kok, eksplorasi temanya juga udah beragam. Tapi kalau kita bikin film bagus tapi nggak laku atau film laku tapi nggak bagus nggak ada gunanya. Kita harus memproduksi karya-karya berkualitas dan bertemu dengan penonton yang tepat. Makanya untuk membuat film bagus dan laku kita perlu sutradara dan produser bagus juga."

 4. Kolaborasi Dengan Bakat Baru

“Saya nggak punya target untuk kolaborasi dengan siapa. Target saya cuma gimana bikin film dengan kerangka lebih sistematis dan membuka akses seluas mungkin untuk ketemu dengan bakat-bakat baru dan kemungkinan-kemungkinan baru membuat film Indonesia dari yang sudah ada sekarang."


5. Buat Film dengan Perasaan  dan Pikiran

“Film saya biasanya dibagi dua, pertama berbasis perasaan misalnya seperti film pendek Maling, ide awalnya dari pemikiran saya, kenapa ya banyak maling yang dibakar kok bisa gitu ya masyarakat kita makanya saya coba membuat film tentang itu. Kalau Mencari Hilal dan Talak 3 dari pikiran. ” 

6. Menonton 400 – 600 Film Per tahun

“Saya menonton 400 – 600 film setiap tahunnya. Saya nggak punya sineas yang menjadi barometer atau acuan dalam membuat film. Tapi kalau sutradara yang selalu saya tonton filmnya; Eddie Cahyono, Edwin ( Postcards from The Zoo—red) dan Garin Nugroho. Tiga sutradara ini saya senangi karena saya yakin film-film mereka nggak akan mengecewakan saya.”

7. Belajar Script Writing

“Untuk saat ini target saya adalah belajar script writing dan mengusahakan untuk membuat film lagi dan lagi. Karena saya sudah terlanjur di sini (dunia film—red) makanya sebaik mungkin untuk bisa tumbuh dan berkembang sebagai pembuat film dan manusialah.”


Nah, buat yang pengin jadi pelaku industri film pastinya pada semangat dan terinspirasi 'kan memajukan industri perfilman Indonesia? Trus, buat penikmatnya, wajib respect film karya orang Indonesia, ya!

SHARE & COMMENT